![]() |
Dalam kasus pemboman di Somalia ini, pilot yang terdiri dari dua hingga tiga orang berada jauh dari daerah konflik, tepatnya di darerah gurun, Nevada, AS. Mereka duduk di sebuah ruangan khusus yang kecil dengan layar komputer di depannya. Satu orang menerbangkan drone, sedangkan yang lain bertugas untuk menembakan misil dengan memencet tombol joystick yang digenggamnya.
Melalui layar komputer, mereka menggerakan drone dan mengarahkan misil ke sasaran yang telah ditentukan. Ada juga orang ketiga yang bertugas untuk melakukan komunikasi dengan atasan dan petugas lapangan lainnya.
Menurut survey yang dilakukan oleh Angkatan Udara AS, menunjukan bahwa sekitar 46% dari pilot drone Reaper dan Predator menderita stres operasional yang tinggi. Meski begitu, dengan alasan efektifitas, pemerintah AS dan negara-negara maju lainnya akan terus mengembangkan drone sebagai senjata pembunuh yang efisien. Ini artinya, kedepan akan banyak orang-orang memainkan game 'perang-perangan' dengan target nyata.
ISU HARIAN - Yang menggelisahkan penulis adalah, dengan drone terjadi dua pembunuhan sekaligus. Pertama adalah misil yang diluncurkan mampu membunuh secara fisik target sasaran. Yang kedua, drone juga akan membunuh secara perlahan 'nurani' dari para pilot yang menjalankannya. Suatu saat, sang pilot tidak akan merasa bersalah lagi dan menganggap hanya sebagai permainan video game biasa saja.
Penulis masih ingat betul, beberapa tahun lalu saat ramai munculnya game yang mengandung unsur kekerasan dan dimainkan oleh anak-anak. Saat itu banyak orang tua yang mencemaskan pengaruh buruk dari game tersebut terhadap perkembangan emosi anak yang memainkannya, sehingga banyak dari mereka melarang anaknya bermain game tersebut.
Namun saat ini, permainan game yang ada unsur kekerasannya sudah menjadi hal yang biasa. Banyak dari mereka beralasan bahwa itu hanya permainan virtual, tidak terjadi di dunia nyata. Mereka juga beralasan bahwa manusia, termasuk anak-anak haruslah terus mengikuti perkembangan jaman dengan kemajuan teknologinya, agar tidak tertinggal dari yang lainnya.
Bisa dipastikan suatu saat nanti, orang membunuh orang lain dan menghancurkan suatu tempat dari jarak sangat jauh, melalui sebuah permainan video game, akan dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Bahkan bisa menjadi sesuatu yang menggembirakan manakala sukses melakukan penghancuran 'musuh' dalam gametersebut. Seperti anak-anak jaman sekarang yang bersorak gembira manakala berhasil menghancurkan musuh dalam permainan video game mereka.
Sepertinya perang masa depan adalah perang permainan video game. Indonesia, sebagai bangsa berdaulat sudah semestinya menyiapkan senjata masa depan tersebut dengan segala perangkat lunak dan kerasnya. Pertanyaannya, sudah sampai mana drone kita? Ehhmmmm..... sepertinya itu bukan prioritas deh,.... kita lebih tertarik meningkatkan keimanan kayaknya. Masih banyak perilaku bidah dan haram yang harus diluruskan terlebih dahulu. Semua itu demi masuk surga kelak. Sekian. TOP POKER

Tidak ada komentar:
Posting Komentar